Bandung, mediataninusantara.id – Musim kemarau yang mulai melanda membuat sejumlah petani di kawasan sekitar Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, mengubah pola tanam mereka. Keterbatasan pasokan air mendorong sebagian petani meninggalkan budidaya padi dan beralih menanam mentimun yang dinilai lebih tahan terhadap kondisi kering serta memiliki masa panen lebih singkat.
Di bawah terik matahari pada Selasa (30/6/2026), Rohman, seorang petani setempat, tampak sibuk memasang tali pada batang-batang bambu yang ditancapkan di lahan garapannya. Rangkaian bambu tersebut dipersiapkan sebagai penyangga tanaman mentimun yang baru mulai dibudidayakan.
Menurut Rohman, keputusan beralih ke mentimun diambil karena pasokan air saat musim kemarau semakin terbatas. Beruntung, lahan yang ia kelola masih mendapatkan suplai air dari aliran yang berasal dari kawasan permukiman.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Air susah di musim kemarau. Air untuk mentimun masih ada dari aliran permukiman,” ujarnya.
Selain lebih hemat air, mentimun juga memberikan keuntungan dari sisi waktu panen. Jika padi membutuhkan waktu sekitar empat bulan hingga siap dipanen, mentimun sudah dapat dipetik dalam waktu sekitar dua bulan.
“Kalau mentimun dua bulan sudah panen, sedangkan padi bisa sampai empat bulan, terlalu lama,” katanya.
Meski demikian, tidak semua petani meninggalkan tanaman padi. Rohman menjelaskan, petani yang memiliki lahan berdekatan dengan saluran irigasi atau sungai masih memilih menanam padi karena ketersediaan air relatif mencukupi.
“Ada yang berkebun, ada juga yang tetap menanam padi. Biasanya yang lahannya dekat sungai masih tanam padi, sedangkan yang jauh dari sumber air dijadikan kebun,” jelasnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi lahan pertanian yang beragam. Sebagian sawah dibiarkan kosong selama musim kemarau, sementara lainnya ditanami jagung, mentimun, dan berbagai jenis sayuran. Ada pula lahan yang telah ditanami padi, namun pertumbuhannya terhambat akibat debit air di saluran irigasi yang mulai menurun.
Perubahan pola tanam ini menjadi salah satu strategi adaptasi para petani dalam menghadapi ancaman kemarau panjang, sekaligus menjaga produktivitas lahan agar tetap menghasilkan di tengah keterbatasan pasokan air.























